Life is too short to wake up in the morning with regrets. So, love the people who treat you right. Forget about the ones who don't, and believe that everything happens for a reason. If you get a change, take it. If it changes your life, let it. Fight your day with your heart, get win and never surrender for what you believed. Always spread love, always thankfull for what God gives to us. Remember, no body said it would be easy. They just promised it would be worth it.



Rabu, Januari 5

Encouragement = Pengobaran se\m/angat

Pada akhir tahun, saya harus memberikan penilaian kepada anak buah. Demikian pula saya akan dinilai oleh atasan saya. Di instansi dimana saya bekerja, range nilai adalah 1-100, dan saya tidak akan memberikan nilai 100 kepada anak buah saya, karena dia bukan robot, yang tidak pernah meninggalkan tempat duduknya, yang bekerja tanpa keletihan dan istirahat. Tetapi saya nilai dia dengan nilai baik dalam range yang diterima. Dan saya pun berharap atasan saya juga memberi nilai baik kepada saya, karena saya pikir kerja saya tidak buruk-buruk amat. 

Saya jadi teringat akan milist teman luar biasa saya, (thanks alien..!!), yaitu tulisan dari DR Rhenald Khasali, yang dalam postingan tersebut beliau menjabat sebagai Ketua Program MM UI, dengan judul "Pendidikan Kita". Dalam tulisan tersebut menerangkan apa yang dialami oleh beliau ketika putranya mendapat nilai bagus untuk pekerjaan yang menurut beliau biasa-biasa saja (di luar negeri), dan beliau membandingkan dengan sistem pemberian nilai dan apresiasi yang terjadi di negara kita tercinta, Indonesia. Disana tertulis :

"Pada saat kembali ke Tanah air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut "menelan" mahasiswanya yang duduk dibangku ujian. Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung dan menyebarkan berita tidak sedap seakan-akan kebaikan itu ada udang dibalik batunya. Saya sempat mengalami frustasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement.  Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak disana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan menerima hadiah Nobel. Bukan karena mereka mempunyai guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak. Kembali ke pengalaman anak saya diatas, ibu guru mengingatkan saya, "Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh kedepan".  

Dan apa yang dialami oleh Bp Rhenald pernah saya alami juga. Ketika bimbingan tesis, sepanjang perjalanan memasuki kampus, saya membaca al fatehah dan surat-surat pendek, berulang-ulang dalam hati. Untuk apa ? untuk menenangkan diri karena akan bertemu Ibu Professor pembimbing saya yang menurut saya angker. Dan berharap semoga lancar. Entah karena doa-doa saya atau saya memang beruntung, 3 kali bimbingan proposal sampai bab 3 lancar. Tapi memasukin ruang bimbingan, badan panas dingin. Sedangkan teman-teman saya golongan orang-orang yang tidak seberuntung saya, karena proposal saja sudah hampir 1-2 bulan masih harus diperbaiki. Tetapi pada saat, analisis penelitian, saya pernah dijanjikan untuk bertemu hari H jam H. Posisi saat itu dirumah tidak ada pembantu, dan kakak masih kelas 5 SD, adik masih TK kecil. Terpaksa mereka harus kutinggal untuk berangkat ke kampus, dengan janji cuma sekitar 1 jam sudah sampai rumah lagi. Ternyata setelah menunggu, beliau minta ketemu 2 jam lagi. Dua jam ? sedangkan anak-anak sendiri dirumah.. duh, airmata dah mbrabak mau keluar aja. Itu belum seberapa. Seorang mahasiswa dari Bali yang sebimbingan dengan saya menceritakan kalau proposalnya pernah dibanting ke lantai, dan mahasiswa itu walaupun takut, nekat mengambil proposal itu dan diberikan lagi ke Beliau... hahahahaha.

Aaah.. belum lagi pas pengujian, di uji 3 orang dosen penguji termasuk sang Ibu Professor, dan menurut saya (optimis), saya bisa menjawab semua dengan lancar, tapi apa nilai saya dari kerja keras saya ? B. Ya cuman B. Padahal saya berharap lebih. Dan yang membuat kecewa, nilai tersebut dikeluarkan setelah seminggu pengujian, jadi tidak langsung... aaah... Apa beliau-beliau masih ingat saya diantara sekian ribu mahasiswa? ..hiks... jadi yaa sampai sekarang saya masih penasaran dengan nilai saya tersebut... hahahahah.. tapi ya sudahlah...

Ini saya kutip lagi dari tulisan DR Rhenald :
"Sekolah yang membuat kita tidak nyaman, mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun dilain pihak dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti"

Senin, Januari 3

Menulis... Kenapa tidak?

Saya penggila buku dan saya tidak punya genre khusus ketika memilih suatu bacaan, tidak memilih pengarang tertentu pula. Tetapi bila seorang pengarang yang menurut saya bagus seringkali saya mengambil beberapa bukunya pula. Berharap buku lainnya akan sebagus buku pertamanya. Tetapi tidak jarang pula dan sering malah, buku-buku berikutnya tidak seperti yang saya harapkan, bukannya tidak bagus tetapi seperti ada yang kurang. Dan itu menurut saya wajar-wajar saja, karena 'mood' seseorang belum pasti bagus saat dia menulis. Every books will open our mind, bahkan tulisan yang beberapa baris pun akan memberikan arti sendiri. Oleh karena itulah saya tidak punya pengarang favorit, saya baca buku apa saja yang saya kepingin baca, entah komik, entah novel, entah ensiklopedia, entah biografi, koran, buku agama....apapun, yang penting baca biar otak gak berhenti.... that's all..!!!

 Beberapa hari lalu saya mendapat sebuah buku di sebuah pameran di kota Kudus. Buku terbitan lama, berjudul "Orang Miskin Dilarang sekolah", karangan Wiwid Prasetyo. Kalau boleh jujur, saya tidak terlalu suka gaya penulisannya, tetapi like I said before : Every books will open our mind. Ada salah satu halaman yang pas sekali menurut saya, yaitu di halaman 60-62. Diceritakan bahwa tokohnya terinspirasi atas kata-kata mutiara yang dijumpainya dalam sebuah buku yang pernah dibaca oleh tokoh itu, yaitu : "Menulislah, atau kau akan menghilang dalam pusaran sejarah". Dan si tokoh karena masih SD, bertanya kepada gurunya yang digambarkan sang Ibu Guru bermata lentik di balik kaca mata minus, beralis tebal dan rambut tersanggul seperti Ibu Kartini.   Dan Ibu Guru berkata : 

Menulis itu pekerjaan panggilan hati, seorang penulis itu penjaga peradapan agar tidak punah, menulis berarti mengikat ilmu, menulis berarti seperti seorang bidan yang membantu kelahiran bayi-bayi sejarah yang akan dikenal, dirasakan, kemudian tumbuh menjadi besar. Menulis berarti membenihkan gagasan untuk ditelurkan sebelum akhirnya berkecambah seperti pohon kacang polong yang tumbuh terus-menerus hingga keatas langit. 
Bayangkanlah sebuah dunia tanpa tulisan, betapa sepinya, tak ada hiruk pikuk pengetahuan, tak ada debat intelektual, perpustakaan-perpustakaan menjadi sepi, dunia hanya diliputi kertas kosong berwarna putih. Tak ada gedung-gedung tinggi sebab tak ada yang menulis tentang teknik konstruksi bangunan, tak ada tanaman bonsai sebab para ilmuwan tak menuangkan bagaimana ilmu mengarbit tanamannya dalam sebuah tulisan. Tak ada pemerintahan bercorak nasionalisme, sebab para penggagasnya hanya memikirkan ide itu di dalam otaknya.  
Menulis itu untuk mengekalkan kita, menulis bisa juga sebagai amal shalih kita yang selama ini tak pernah kita sadari sebagai amal shalih. Banyak orang di dunia ini datang dan pergi tanpa sesuatu yang berarti, mereka datang seperti mendung dan menghilang seperti hujan, bahkan jejak-jejaknya sendiri menguap tanpa bekas.




aaahhh... luar biasa bukan. 
So, writing,...why not ?

Sabtu, Januari 1

new year eve...

2011  .... hari baru, bulan baru di tahun baru. Dalam wikipedia, tahun baru adalah perayaan dimana suatu budaya merayakan berakhirnya masa satu tahun dan menandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Budaya yang mempunyai kalender tahunan semuanya mempunyai perayaan tahun baru. Hari tahun baru di Indonesia jatuh pada tanggal 1 Januari karena Indonesia mengadopsi kalender gregorian, sama seperti mayoritas negara-negara di dunia. Dan apa yang terjadi dan akan saya lakukan ketika medapat Kalender baru di penghujung tahun ? Kalender akan saya lihat dan akan saya cari dimana letak tanggal-tanggal merah berada. Sehingga dapat terancang di benak kapan jatuhnya hari libur di tahun depan, dan tentu saja kejadian itu akan berulang setiap tahunnya.

Malam tahun 2011 yang saya alami adalah kemacetan yang luar biasa ketika memasuki kota Jogjakarta. Kebetulan me and my boys pulang dari Kudus menuju Jogjakarta, pas jam 5 sore berangkat, sepulang kantor. Suasana tahun baru mulai terasa ketika akan memasuki kota Solo, di daerah Kaliyoso, iring-iringan sepeda motor dengan suara knalpot seperti sedang kampanye partai politik, sedikit menganggu sepanjang perjalanan kami, sehingga driver harus mengambil jalan memutar untuk menghindari kemacetan. Usaha kami tidak banyak membuahkan hasil, karena lepas dari Kartosuro, di Klaten lebih parah lagi, dan ternyata mereka berkumpul di sepanjang jalan di depan candi Prambanan. Begitu banyak orang, sepeda motor bersliweran, yang bikin jengkel mereka mengendarai motor pelan-pelan dilajur tengah dan ber-sms ria...halah!!! Sedangkan kami dalam kondisi capek karena perjalanan jauh dan ingin sekali segera sampai dirumah. Yang sedikit bikin miris hati adalah banyak orangtua yang membawa anaknya yang menurut saya masih terlalu kecil untuk ikut ber- euforia di malam tahun baru. Umur mereka diantara 2-3 tahun dan tertidur lelap di sepeda motor diantara orangtuanya. 

 Selebrasi semacam itu hampir beberapa tahun sudah saya tinggalkan. Keinginan untuk ber ria-ria mencari keramaian dimalam tahun baru sekarang berkurang. Mungkin karena bertambahnya usia, mungkin juga karena tergolong makhluk bumi yang aneh, sehingga sering merasa sepi ditengah keramaian dan merasa asyik ketika tempat-tempat yang seharusnya ramai seperti mall, kolam renang atau tempat wisata masih sepi pengunjung dan pulang ketika tempat itu mulai ramai berdatangan orang. Dan hebatnya, my boys tidak pernah merengek-rengek minta dianterin ke alun-alun untuk melihat pesta kembang api yang suaranya menggelegar terdengar dari rumah. Bahkan beberapa kembang api terlihat pula dari rumah. Kami selalu asyik dengan bercanda, ngemil, cari dan bikin makanan enak, nonton tipi, sampai perang-perangan dan tertidur kelelahan. Ketika kami berlibur di salah satu tempat wisatapun, malam tahun baru seringnya kecapekan karena aktifitas siangnya entah berenang atau jalan-jalan, dan lelap di kamar hotel... hahahahaha... benar-benar keluarga yang aneh bukan ?

Ada sebuah tajuk di Koran Jawa Pos pada tanggal 1 Januari 2011 yang menceritakan tentang seorang pemimpin yang merupakan salah satu dari sekian banyak orang yang dapat saya kagumi, yaitu Bapak Dahlan Iskan. Kebetulan tulisan-tulisan beliau yang begitu transparan dan apa adanya sering muncul di Koran tersebut. Diceritakan beliau melakukan live chat dengan para karyawan PLN nya untuk menyemangati hari baru di tahun baru dengan mengenakan baju ala pahlawan Tiongkok Mao Zedong... hahahhaa.. kejutan yang manis dari seorang pemimpin yang mempunyai ribuan karyawan. Dimana judul dari live chat tersebut tertuang dalam CEO's Note nya " Tahun mencangkul lebih dalam". Suatu ungkapan yang sangat dalam maknanya diartikan dari manapun. Bahkan dalam live chat tersebut ketika ada salah seorang karyawan dari daerah yang memprihatinkan akan adanya jumlah trafo di daerahnya, beliau langsung menjawab dan menyuruh saat itu juga agar karyawan tersebut menghitung trafo yang diperlukannya dan akan dikirim sekarang juga. Wuih.. don't talk only.. di tahun baru, awali hari baru dengan langsung ber' direct action' seperti beliau. Dan apakah para pemimpin di negeri kita tercinta ini, beliau-beliau yang duduk diatas kita juga melakukan tindakan nyata dan tidak hanya sekedar mengucapkan ucapan selamat tahun baru saja? Aaahh.. semoga...!! 
Dalam tulisannya beliau, mengatakan bahwa PLN telah memberikan/ mendistribusikan listrik terutama untuk perusahaan-perusahaan baru tentu akan banyak membuka banyak kesempatan pula, baik tenaga kerja, investasi dan sumbangan ekonomi secara nyata di tahun 2011, hal itu disebabkan ketika beliau berkunjung disalah satu daerah dan mendapati sebuah perusahaan yang telah berinvestasi dengan jumlah yang besar untuk membuka perusahaan tersebut, ternyata perusahaan tersebut tidak dapat difungsikan karena tidak adanya aliran listrik. Dan keadaan tersebut langsung ditindaklanjuti dengan membuka layanan secara umum untuk sambungan-sambungan listrik baru. Beliau begitu optimis untuk melangkah di tahun baru ini.

Dan berita yang miris di tahun baru ini adalah dalam hingar bingar nya New Year Eve, di salah satu kota santri terjadi peningkatan penjualan, maaf , kondom. Dan siapa yang membeli ? mereka adalah anak-anak muda atau remaja. 
Jadi, apakah pesta penyambutan tahun baru tidak perlu ? 
Tunggu dulu, siapa yang tidak memperbolehkannya ? wong nyata nya banyak sekali peminatnya, bukan hanya di kota saja, bahkan di desa-desa mereka akan berduyun-duyun ke alun-alun kota untuk ber gembira ria. Semua anak-anaknya dibawa turut serta. Semua tempat wisata akan penuh keesokan harinya. Mungkin sebenarnya mereka ingin melepaskan beban yang menghimpit di tahun lama dan berharap di tahun baru mereka tidak terhimpit beban lagi. Dan ekspresi mereka adalah dengan bergembira, menyaksikan pesta kembang api dan lain sebagainya. 
Dan bagaimana dengan kejadian-kejadian seperti pembelian kondom oleh remaja yang meningkat, miras dan narkoba pada saat perayaan tahun baru ?
Saya selalu berpikir hukum sebab akibat pasti akan ada. Disebabkan adanya perayaan dan pesta maka akibatnya akan ada beberapa hal-hal yang melekat padanya. Pada pesta ulang tahun anak-anak, ada balon, kue tart, permen dan anak-anak itu sendiri. Nah pada pesta perayaan orang dewasa, apa yang melekat ? silakan dijawab sendiri. Dan apakah itu salah ? Ya, kalau lihat dari sisi agama, kriminalitas, jelas salah dong. Nah kalau yang ditanya para pengembang kota, penjual kondom, ekonom dan yang berkaitan dengan market, belum tentu lho mereka akan menjawab bahwa itu salah. Apalagi yang ditanya penjual kembang api atau bandar narkoba...heheheheh...
aaaahhh... whatever lah,... walau bagaimanapun perayaan tahun baru akan selalu ada di setiap negara. Mau yang heboh, atau mau seperti di desa-desa yang pernah kulihat, mereka duduk di pinggir sawah malam-malam membawa kembang api kecil untuk sekedar mengajak anak mereka bergembira.
So, earth juga harus mengucapkan :
                 SeLAmaT TaHuN BaRu   2011
Semoga earth bisa pindah ke Jogja lagi.... hahahahahah...amien..!!!       

Selasa, Desember 21

Selamat Hari Ibu...

  Hari ini tanggal 22 Desember 2010
Kepada semua ibu-ibu yang hebat, yang luar biasa, yang tangguh, yang penuh sayang, yang selalu penuh perhatian, yang selalu mengajak keluarganya untuk selalu tersenyum, yang selalu berjuang, yang selalu meningkatkan pengetahuannya, yang tak pernah lupa memeluk anak-anaknya, yang selalu mengucapkan kalimat sayang, yang mendorong dan memotivasi, yang tak henti-hentinya berdo'a, yang selalu mencintai lingkungannya, yang selalu menjadikan apapun yang dilakukan sebagai ladang amal, yang tak pernah mengeluh, yang menjadikan dirinya sebagai istri yang sabar, yang selalu menjadi pendamping suaminya dikala senang dan susah, yang selalu menerima suaminya apa adanya, yang menjadi contoh pimpinan wanita yang baik bagi anak buahnya, yang selalu membantu karyawannya dan peduli, yang selalu ber -SE\m/ANGAT.....
Yeaaahhhhh.... It's great to be a mom.... always thankfull for everything we got. Just remember, women can change the world......Be a good woman, be a good wife, be a good people...BE A GOOD MOM...horeeee...This is your Day, Mom...Spread your love to your family...Keep Movin' On..!!! 

Senin, Desember 20

Recovery of Merapi



Setelah hampir 2 bulan meletusnya Merapi, apa yang terjadi dikawasan-kawasan sekitar ? lets check it out ! 
Pagi-pagi jam setengah tujuh di hari Minggu yang adem, belum mandi, pake' sandal jepit, bawa 2 motor melajulah kami, me with my boys menuju Kali gendol yang fenomenal sejak meletusnya merapi tahun ini. Melaju saja kearah utara dari jalan alternatif  magelang-jogja-solo bila dari arah kalasan. Terakhir kesana sekitar tahun 2008 lalu, jembatan memang sudah rusak setelah erupsi tahun 2006, dan sekarang... dan kagetlah saya, begitu masuk kawasan Kali Gendol, ramai kendaraan, mobil, motor dan orang lalu lalang, bahkan beberapa penjaja makanan dan pedagang asongan turut berpartisipasi. Kukira ada event apa gitu, ternyata pagi itu semua orang ingin melihat langsung kondisi Kali Gendol. 



Seingatku, terakhir kali melintas ke Kali Gendol beberapa tahun lalu, it means tersesat kesana, belum ada batu besar itu. Suamiku bilang juga sama. Berarti batu besar itu terlempar kemarin waktu Merapi meletus. Wuih...Luar biasa ya lontarannya. Kali Gendol terletak sekitar 6-7 km dari Merapi. 
Dari tukang parkir yang kutanya, ternyata sudah hampir 4 hari lokasi ini ramai pengunjung. "Sehari dapet berapa Pak?", tanyaku. "Ya, paling sedikit 500 ribu." Kata si tukang Parkir. Yang katanya juga, semua masuk ke kas Desa untuk me'Recovery" Desa-desa sekitar Kali Gendol.
Begitu menginjak tanah disekitar lokasi, bau belerang, bau kayu-kayu terbakar masih sangat terasa. Bahkan Tanah/pasir Merapi masih hangat ketika terinjak. Ada beberapa kepulan asap dibeberapa tempat. Kulihat alat pengeruk sedang bekerja, kemungkinan besar sedang membuka kembali jalan aliran lahar dingin, agar dapat dimanfaatkan lagi. Tinggi pasir sekitar 4-5 m dari jalan sekitar. Luar biasa ya.
Jangan salah, itu bukan asap debu, tapi asap panas yang keluar dari dalam pasir  
 Dan tumbuhan-tumbuhan habis terbakar dan mati kena luncuran awan panas.
 let see my boys asyik bereksplorasi dengan panasnya air.. buat merebus telur pun kurasa pasti matang.
Setelah puas dibawah, naiklah kami keatas dan berjalan kesamping Kali, terlihatlah kekuasaan Alloh yang luar biasa. Beberapa rumah yang hancur, dan ada sebuah rumah tingkat yang masih terlihat bagus tetapi semua penghuninya meninggal kecuali salah satu anaknya karena dia tidak ikut lari keluar tetapi berlindung dengan membungkus tubuhnya dengan kasur. Hal ini diceritakan oleh seorang Bapak yang berdiri disamping suamiku, karena anak yang masih hidup itu adalah mahasiswanya.
 Rumah ini terletak diseberang rumah tingkat tersebut
 Dari keterangan penduduk sekitar jumlah meninggal diseberang sungai ada sekitar 16 warga

 alhamdulillah masjid masih berdiri kokoh, sehingga masih bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar
Akhirnya, alih-alih mau pulang, ternyata kami malah melaju kearah Desa wisata Petung, dan disanalah kami berada, Di Desa Kepuharjo. Perjalanan kesana sangat unik, kami dicegat oleh beberapa warga untuk meminta sumbangan sukarela. Setelah naik kurang lebih sekiloan...jalan macet. Ya, bukan hanya Jakarta yang macet, tapi jalan menuju puncak Merapi pun macet. Aku sendiri bingung, emang segitu banyak orang sampai macet nih. Ternyataaa... disebelah kiri jalan dipalang oleh warga lagi dan ditarik iuran sebesar Rp. 5000. Ee lha.., kukira per motor atau permobil, ternyata perkepala... Hahahaha..luar biasa, tapi It's okey, ikut aja..berarti kita ikut andil dalam me'recovery' desa tersebut kan.
Ya Alloh...! Bencana ini takkan membuat kami berpaling dariMu...
Nice quote..!!!!
Ayo Bapak-bapak,..Keep the spirits  
Jangan Patah SEMANGAT..!!!
Walaupun megang stir motor, tangan kiri tetap gatal buat ngeluarin kamera dari kantong tas, dan memotret tulisan, sambil lalu aja dengan tangan kiri dan motor tetap melaju, ditengah-tengah kroditnya jalan...hahahaha..ternyata, nge'shoot nya tepat juga.
Harus cepat-cepat atau helm kita kena gethok motor samping karena merasa terganggu. Maap-maap...
Yeee..akhirnya sampai juga setelah berapa kilo ya, hmmm sekitar 2-3 kilo, jalan naik terus, dan aku merasa yakin jalan yang kulalui adalah jalur evakuasi dimana beberapa relawan dan kru tv berlari-lari turun gunung. Sampailah kita dikaki gunung. Subhanalloh, Merapi begitu dekat. Jarak sekitar 2-3 km dari Merapi. Atau lebih ya? heheheheh... Yang jelas, deket banget. Dan menurut informasi warga, Desa inilah sebagai desa terakhir sekarang, karena diatasnya adalah kampung Mbah Maridjan.



Ada 2 rumah disini yang mulai diperbaiki oleh pemilik rumah dengan dibantu oleh para relawan. Kusempatkan berbincang-bincang dengan saudara dari pemilik rumah tersebut. Semoga saja rumah itu kelak memberikan manfaat ekonomis, dilihat dari prospek wisata di Desa tersebut. Relawan yang membantu datang dari berbagai daerah, juga dari beberapa desa disekitar Merapi. 

Ketika saat pulang turun gunung, sempat bertemu 9 truk dan beberapa mobil bak terbuka membawa relawan. Luar biasa, ternyata semangat untuk melakukan "recovery" masih ada. Semoga semua desa yang terkena dampak letusan Merapi dapat bangkit kembali, bernafas lagi dan kembali menyatu dengan Merapi lagi. Dan beberapa hari ini terdengar kabar gembira pula dari stasiun tv yang mengabarkan sekitar 2600 an rumah /shelter (mungki  lebih) bagi para pengungsi Merapi yang kehilangan tempat tinggal akan selesai seluruhnya pada akhir Januari 2011. Amien. Dan pengungsi di Stadion Maguwo akan segera dipindahkan. Ah, semoga kehidupan mereka menjadi normal kembali.

Selasa, Desember 14

Parents,....BEWARE...!!!!

Pagi hari ini tanggal 15 Desember 2010, dari stasiun tv swasta menyiarkan berita bahwa di Surabaya ada 2 orang siswa murid kelas 5 SD menganiaya dan me'malak" temannya Rp. 5000,- Dua anak laki-laki tersebut diadukan oleh ibu dari korban ke Polisi dan di proses lah keduanya di Pengadilan. Ibu korban sempat mengadukan kejadian yang menimpa anaknya ke sekolah, tetapi tidak ada tanggapan dan tindak lanjut dari pihak sekolah, sehingga Si Ibu akhirnya melaporkannya ke polisi. Pengadilan memutuskan kedua anak tersangka "bersalah",..dan alhamdulillah Pengadilan masih mempunyai hati nurani sehingga walaupun putusan Pengadilan adalah "bersalah" tetapi kedua anak dikembalikan kepada orangtuanya, dan orangtua harus dapat membina anak mereka. Dan diperlihatkan juga gambar teman2nya yang menangis. Entah menangis untuk temannya yang jadi korban atau untuk temannya yang disidang di Pengadilan.
Bagaimana jika si Ibu korban tidak melaporkan ke Polisi? Bagaimana jika Pengadilan memutuskan bahwa anak harus di "sel" kan atau di masukkan lembaga Pemasyarakatan Anak?  
 
Seandainya pihak sekolah mau mendengarkan keluhan orangtua dan mau ikut berpartisipasi dalam pembinaan anak, tentu hal-hal tersebut dapat dihindarkan. Apabila si Ibu tidak melaporkan ke Polisi, tentu si anak pelaku bisa jadi akan terus melakukan aksinya dan semakin banyak korban lagi. Tetapi apabila si anak pelaku dihukum dan di"sel"kan, apakah juga akan lebih baik bagi kelak kehidupannya nanti? Syukurlah, si anak dapat kembali ke orangtuanya, dan terjadilah "pembelajaran" disini, bagi si anak pelaku, maupun bagi orangtuanya. Dan di masyarakat kita, semoga tidak ada yang "mencibir" atas tindakan yang dilakukan / pelaporan yang dilakukan oleh Ibu korban.Karena sebelum lapor ke Polisi sudah ada upaya melaporkan ke pihak Sekolah.

Kejadian yang pernah langsung kualami adalah pada tahun 2006 lalu, pada saat menunggu anak sekolah di TK, biasanya mereka akan bermain berkelompok dari kelas yang sama. Nah, ada seorang anak yang agak gendut, ketika akan naik ke panjatan untuk main luncuran, diatas dihadang oleh temannya dan diminta uangnya. Yang aku dengar saat itu adalah,"Ayo, bayar karcis dulu!". Tetapi tidak meminta kepada anak yang lainnya. Sesaat kuperhatikan, dan ternyata bukan main-main, karena uang sebesar Rp. 1000,- tersebut saat lonceng berdentang tanda selesai istirahat tidak kulihat dikembalikan. Karena aku kenal anak dan orangtuanya, kudekati dan kutanya, " Tadi tante lihat kamu minta uangnya Digma ya?, Dikembalikan ya,dan jangan lupa minta maaf ya", kataku. Si anak nurut dan mengembalikan uang "hasil dia memalak". Dan kebetulan si anak pelaku memang agak sedikit berbeda dengan teman yang lain, yang mungkin orang lain akan bilang: nakal. Pernah juga, seorang anak menangis (teman anakku juga), dan ternyata dia menangis karena ingin ikut main dengan teman-temannya, tetapi tidak diperbolehkan oleh anak pelaku tadi. Aaaaah... padahal ini baru TK. Bagaimana dengan anak-anak kita ketika mereka di sekolahan lanjutan nantinya?   
Sepertinya kejadian ini akan terus berulang, apabila tidak ada kepedulian dari semua pihak, dari orang tua, dan pihak diluar lingkungan keluarga, yaitu sekolah dan masyarakat.Alangkah senangnya dunia ini, jika anak-anak kita berangkat ke sekolah dengan senyuman dan pulang kembali kerumah juga dengan senyuman. 
Remember,... It should't hurt to be a child...!!! 


  

Jumat, Desember 10

Long Distance family


Yaaa..welcome to my family,...we are a kind of long distance family....Enak ? Jelas tidak..!! Tak pernah terbayangkan ketika harus jauh dari anak-anak. Dengan suami jelas jauh-jauhan, karena memang dari awal married kami dari satu instansi yang harus berpindah-pindah kota. Tak ku ikuti,c'mon, gets reality, kalo' aku ngikut, belom selesai benah-benah rumah, belum dapet sekolah anak-anak, atau sudah dapat tapi baru jalan beberapa bulan atau parahnya baru beberapa minggu, ayahnya pindah lagi..halah..!! kasian anak-anak jadinya. Kita sebagai orangtua sih santai aja nyesuaikan lingkungan, tapi anak-anak kita ? Bukan hanya perasaan kita yang kita pikirkan, perasaan anak-anak jauh lebih penting.
Hmmm..well, dalam keluarga semua pilihan sama beratnya, masing-masing punya konsekuensi. Hukum sebab akibat selalu jalan. 

Dalam long distance family, ayah dimana, ibu dimana, anak dimana. 
Parah? Tergantung dari sudut pandang. Pembenaran ? bisa jadi.. What should we have to do? 
Kebetulan apa yang kualami baru terjadi sekarang, mungkin beberapa keluarga telah lama mengalami. I've a comittment with my husband, si ayah boleh kemana aja, pindah-pindah, tetapi anak-anak harus dengan ibunya.


Dan pada saat sk mutasi keluar, namaku tertera di SK dan menunjuk suatu kota yang...hiks..jauh dari anak-anak. Yeaah..shock ? jelas..!!. I 've two option : go n' not to go. Go, berarti harus kujalani, Not to go : berarti aku harus keluar dari institusiku dan menjadi ibu rumah tangga. Anak-anak diajak pindah ? Jelas..!! Apakah mereka mau ? Adik mau kalo' kakak mau. Dan si Kakak tidak mau. Atasan ku sempat bilang : "Udah, anak-anak di doktrin aja, harus mau pindah. Toh, sekolahan bagus dimana-mana ada."
Doktrin ? that's never happen in my family..!!!


Suara anak-anak harus didengarkan orangtua. Orangtua tidak boleh semena-mena. We can give them many option, too. Kalo' begini nanti begini, kalo' begitu nanti begitu. Biarkan mereka berpikir dan mengerti akan pilihan yang mereka ambil beserta konsekuensinya. Kita sebagai orangtua hanya mengarahkan, memberi alternative yang baik tanpa memaksa. Memberi pengertian dengan semua kasih sayang yang kita miliki. Dan subhanalloh,we can do..setiap jalan yang diambil selalu ada hikmah yang menyertainya, ketika kita mau berpikir dan bersyukur. Tapiii...biasalah, awal-awal minggu adalah hari-hari terberat buat si Ibu, menangis bombay, konsentrasi kerja hilang, nafsu makan hilang, n' many more..termasuk tagihan telepon yang membengkak jadi 200%. Dan si anak ? dari telpon-telponan with my boys, ternyata mereka masih enjoy dengan kegiatan sekolah, asyik bercanda dirumah. Padahal aku dan my boys gak pernah semalem pun gak tidur bareng..sekarang ? Maafkan ibu sayang. Dan ketika pilihan untuk keluar akan diambil, beberapa orang yang tergantung sama kita menunggu nasib juga untuk menjadi pengangguran. Aaahh..pilihan yang sulit. 

Pernah suatu tengah malam, semua perasaan sedih, menyesal karena merepotkan banyak orang yang harus nungguin anak-anak, kangen, tumpah ruah jadi satu. Dan yang bisa dilakuin hanya menangis dan berdoa. N' what's happen with my brave kids at the same time? Pada saat itu, si adik tidurnya mengigau manggil-manggil si ibu. Aaahhh.. Dan saat itu kuputuskan dalam hati, kalo' sedih harus dibikin senang, kita telpon mereka, bercanda jarak jauh. Agar perasaan sedih kita tak menular kepada si anak. Kalo' hati senang, dengarkan suara mereka, suara mereka pun pasti terdengar riang. Horeeee...
Dan apakah kualitas keluarga yang tidak terpisah pasti bagus? Seharusnya iya. Dan bagaimana dengan long distance family like us? Yaaa... yg bisa kulakuin hanya memaksimalkan waktu saat berada ditengah-tengah mereka. Mungkin walaupun keluarga itu setiap hari bertemu, ada kata : "Maaf sayang, ibu capek. Sama mbak aja ya mandinya?" atau "Sama mbak aja ya makannya", atau "ah, ibu belikan lauk kesukaanmu aja ya, kalau masak kelamaan". " "Yaa.., kan ada guru les, kenapa sama ibu belajarnya ?, Ibu masih ada kerjaan nih." Dan so many excuse lainnya.


Begitulah, cara yang mungkin harus kita buang, kalimat-kalimat excuse, karena secapek apapun, kita pasti bekerja untuk institusi atau atasan kita saat tenaga kita dibutuhkan. Nah, kalo' anak-anak perlu tenaga kita ? maukah secapek apapun kita luangkan waktu buat mereka ? Sekedar perang-perangan bantal, memberi makan kelinci kesayangan mereka, nonton film kartun bareng atau bahkan maen ps gitar heroes bareng...hahahahahah... It's a wonderfull time.
Atau malah kita asik sendiri membaca koran atau majalah langganan kita, asik dengan facebook dan hp kita, membuat janji ketemu teman-teman lama, bersih-bersih rumah dalam tempo waktu yang lumayan lama, belanja ke mall (walaupun mengajak anak-anak tapi kita asik sendiri di stand baju)...yeah..that's your choice.. Bukankah seharusnya kita bersyukur masih diberi banyak waktu, bertemu setiap hari bersama anak-anak kita, bermain, belajar, makan bersama, do something together... I wish I could do that everyday.....
Kita hanya bisa berusaha menjadi ibu yang baik buat anak-anak kita. Walaupun jarak jauh, semoga kita bisa memaksimalkan waktu saat-saat bertemu dengan mereka. Atau kita luangkan waktu sekedar untuk tahu dan bertanya pada mereka ,apa yang mereka lakukan, sudah makan atau belum, sudah sholat belum, lagi belajar apa, tadi belajar apa di sekolah, dapat nilai berapa, bermain dengan siapa di sekolah, bisa mengerjakan ujian dan tugas di sekolah atau tidak, senang tidak disekolah..dan hal-hal yang mungkin sesuatu yang kecil tapi sangat berarti bagi mereka ketika mereka tahu bahwa ada perhatian atas semua yang mereka lakukan seharian.
 For my boys,..Mom always want to hug U forever...maafin Ibu sayang, karena tak selalu ada setiap hari untuk kalian..
Dan ketika sabtu-minggu tlah habis, saatnya long distance dimulai...duuuh...
So, ketika pilihan senin pagi baru berangkat keluar kota (too late to get to the office) setelah mengantar dan melihat anak-anak ke sekolah mereka,dengan konsekuensi sanksi menunggu..yeah.. just say : Life is a choice..!!!